Senin 10 Agustus 2009, jarum jam sudah menunjuk pada angka 7, suasana di rumah begitu tenang, wangi dupa beserta bunga dan canang sari memenuhi teras halaman rumah penuh dengan canda tawa. " mah sebentar lagi dedek berangkat" saya mencoba menyela obrolan hangat kami, saat itu saya sedang mengobrol bersama kedua orang tua sekalian mohon pamit untuk kembali ke bandung, " ya sudah lekas berangkat jangan sampai gak dapet bus karna kemalaman" sahut ibu.. maklum Negara adalah kota kecil di bali, dan memang cukup susah untuk mencari angkutan kota jika hari sudah malam, saya pun segera berkemas agar tidak kemalaman, disamping itu saya harus mengejar kereta yang akan berangkan jam 10 malam di stasiun Banyuwangi baru. Perjalanan biasa ditempuh dari kota negara sekitar 3 jam untuk menuju stasiun Banyuwangi Baru, dari kota Negara menuju pelabuhan Gilimanuk hanya memerlukan waktu 1 jam saja kemudian bersambung dengan menggunakan kapal Ferry menyebrang kepelabuhan Ketapang sekitar 2jam lamanya, sebenarnya pejalanan kapal Ferry hanya sekitar 45 menit saja tetapi terkadang kita harus mengantri dengan kapal Ferry lain nya untuk berlabuh.
Dua minggu sudah saya berada di kota Negara, saya pulang karena ayah dirawat di rumah sakit karena penyakit livernya, dan sudah saat nya kini untuk kembali ke bandung karena masa cuti habis mengingat saat itu saya masih bekerja sebagai tenaga pengajar di salahsatu kursusan musik di bandung. tak lama saya pun segera berangkat dengan tergesah-gesah karena takut jika harus menunggu lama bus kota, belum sampai di gerbang depan rumah kami, terdengar suara ibu memanggil " dek.. jangan berangkat dulu, papa mau ngasi sesuatu", mendengar panggilan ibu, saya pun segera kembali ke rumah dan bertanya" kenapa mam? papa mo ngasi apa?" tanya saya pada mereka.. " sebentar" jawab ibu.. tak lama kemudian ibu mengambilkan sebuah gelas besar yang berisi penuh dengan air putih dan menyuruh saya untuk meminun setengah nya dan setengah nya lagi untuk mencuci muka, tanpa pikir panjang saya lansung meminum dan mencuci mukaku dengan air itu, karena saya pikir itu air tirta atau air suci, setelah itu ibu berkata " itu air cucian kaki papa dan mama, semoga kamu sukses ya dek dan selamat samapai bandung" ungkap ibu. Saya terheran-heran, dan hanya bisa menganggukan kepala seraya berkata "amien", setelah itu saya pun segera berangkat naik motor dengan dia antar oleh adik laki-laki saya menuju ke terminal kota.
15 menit saya menunggu di terminal, akhirnya saya berangkat dengan bus kota menuju pelabuhan Gilimanuk, sepanjang perjalanan menuju Gilimanuk saya terus merenungkan pertistiwa tadi, maklum baru kali ini saya di suruh untuk meminum air cucian kaki orang tua, entah apa maksud dibalik nya, saya masih bertanya-tanya, karena jika ayah memberikan sesuatu beliau selalu menjelaskannya dengan jelas dan logis. Sesampainya di Gilimanuk saya langsung membeli tiket untuk menyebrang, kebetulan saat itu kapal Ferry akan segera berangkat sehingga tak perlu menunggu lama karena harus menunggu muatan masuk kedalam kapal.. satu jam setengah sudah berada di dalam kapal saya habiskan mengobrol dengan salah seorang ABK (Anak Buah Kapal), hanya sebuah obrolan ringan tentang "anak koin" (sebutan untuk para penyelam yang biasa melompat dari atas kapal ke laut dan berenang untuk menangkap koin yang dilempar para penumpang ke laut) dulu atraksi seperti ini sering di jumpai baik di pelabuhan Gilimanuk maupun Ketapang.
Sesampainya di pelabuhan ketapang - banyuwangi, saya langsung menuju ke stasiun banyuwangi baru dengan berjalan kaki, karena jarak dari pelabuhan menuju stasiun kurang lebih sekitar 1 km, saya biasa menempuh nya dengan berjalan kaki menikmati suasana pesisir pantai banyuwangi sambil mengisap rokok, kira-kira 10 menit berjalan kaki sampailah di stasiun Banyuwangi baru, loket sudah di buka dan saya pun segera membeli tiket kereta, biasanya saya selalu memilih kelas Bisni jika perjalanan dari banyuwangi menuju surabaya begitupun sebaliknya, karena jika kelas eksekutif saya harus ke restorasi atau kereta makan agar bisa merokok, tapi entah kenapa saat itu saya ingin sekali duduk di gerbong eksekutif, " eksekutif mbak, dewasa 1 orang, hmmm.. duduk nya kalo bisa yang deket pintu ya..." begitu kata saya pada wanita yang ada di dalam loket. tiket sudah di tangan, eksekutif gerbong 3 . no 2a.. sepertinya saya dapat gerbong eksekutif paling belakang. 21.30 wib. masih setengah jam lagi saya harus menunggu kereta, suasana stasiun yang tidak terlalu ramai karena sudah cukup malam dan hanya ada satu kereta lagi yang akan berangkat jam 22.00 wib. saya duduk di sebuah warung kecil sambil memesan secangkir kopi agar tidak terlalu jenuh menunggu keberangkatan kereta.
22.15 kerata berangkat, saya masih duduk sendiri karena bangku sebelah belum ada yang mengisi, beberapa saat kumudian ada 5 orang tourist mancanegara yang bertanya nomor tempat duduk, saya segera melihat tiket mereka dan menunjukan nomor tempat duduk mereka dengan bahasa inggris yang pas-pasan, mereka duduk di sebelah kanan dan di depan saya, salah seorang dari mereka yang kebetulan wanita duduk bersebelahan dengan saya, " Grace, my name is Grace" sambil mengulurkan tangan wanita bule itu mengajak berkenalan, sambil terbata-bata saya menjawabnya, maklum saya tidak bisa berbahasa inggris dengan baik, kamipun bercakap-cakap dengan keterbatasan bahasa, karena mereka dari Belanda sehingga tidak berbahasa inggris dengan fasih, tiga jam sudah saya duduk di kereta sambil sedikit ngobrol dengan Grace dan bolak-balik kereta makan karena ingin merokok, sampailah kita di stasiun Jember dan kereta pun berhenti, beberapa saat kemudian datang lah seorang wanita paruh baya bersama anak gadis nya( mungkin akanknya, mungkin juga ponakan nya) dan bertanya nomor tempat duduk pada orang di belakang saya " mas kursi no 2.a dan 2b dimana ya?" tanya wanita paruh baya itu, " ini bu didepan , coba saja tanya sama mas yang di depan" jawab nya, kemudian wanita itu bertanya pada saya " mas permisi, ini tempat duduk saya no.2a & 2b, masnya no berapa? tanya ibu itu pada saya, " maaf bu saya juga no 2.a, mungkin ibu salah gerbong, boleh saya liat tiket nya" belum habis saya bicara ibu itu langsung marah-marah " piye to mas, la wong iki nomere 2a & 2b, gak ketok opo sampean? ora mungkin salah gerbong mas, wong tadi saya sudah tanya sama petugasnya kok" jawab ibu itu marah-marah. Merasa tergganggu dengan percakapan kami, Grace bertanya ada apa?belum selesai Grace bebicara, ibu itu kembali marah-marah"ooo.. sampean mo ikut-ikutan to mbak, kayang yang ngerti aja, bule gebleg" entah apa yang buat wanita paruh baya itu marah -marah , anak gadis nya hanya bisa diam saja tanpa bisa mencoba menenangkan ibunya, akhirnya saya meminta mas-mas yang duduk di belakang saya untuk memanggil petugas yang ada, tak lama kemudian petugas datang dan bertanya" ada apa ini ribut-ribut? tanya petugas kereta api, " iki lo pak mase gak mau pindah, lawong ini tempat duduk saya kok, " jawab ibu itu pada petugas, " bisa liat tiket nya bu?" tanya petugas itu lagi pada wanita paruh baya yang tampangnya sudah tak ramah lagi, setelah melihat tiket dari ibu tadi, " ooo..ibu salah gerbong, ini eksekutif gerbong 3 bu, tempat duduk ibu di eksekutif gerbong 2, no 2a & 2b..." kata bapak petugas kereta api itu, "moso se pak? lawong tadi saya sudah nanya, katanya gerbong 2 itu di sini" jawab ibu itu, " ini gerbong 3 bu, mari saya antar tuk mencari tempat duduk nya" petugas itu berkata padanya". Tanpa pamit dan minta maaf, wanita paruh baya itu langsung saja pergi mengikuti petugas yang akan mengantarnya, " wah dasar ibu-ibu sableng" terdengar celetukan dari bangku belakang, saya hanya bisa tersenyum dan segera mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi pada Grace. setelah sedikit mengobrol akhirnya kami tertidur di kereta.
Beberapa jam kemudian, samar-samar aku mendengar suara gaduh dan teriakan-teriakan dari luar kereta, saya masih sangat mengantuk dan belum bangun sepenuh nya, tiba-tiba Grace membangunkan menampar dengan menepuk pundak saya.. " Wake up.. wake up..the train is overturned" jika tak salah itu yang dia teriakan pada saya... saya pun segera bangun dan melihat orang orang berhamburan keluar kereta, suara teriakan dari dalam dan luar kereta membuat saya semakin panik ditambah posisi kereta yang sudah miring sekitar 30-40 drajat, saya segera bergegas keluar sembari membawa tas terdekat tanpa mepedulikan barang bawaan lain nya, saat hendak keluar dari pintu kereta, saya lihat beberapa gerbong sudah terguling di sawah, hanya tersisa 2 gerbong yang masih pada rel kereta api, sedangkan gerbong yang saya tempati sudah mulai terangkat jauh dari rel dan akan segera ikut terguling, saya dan Grace segera melompat dari kereta dan berlari menuju teman-teman dari Grace yang sudah terlebih dahulu menyelamatkan diri. suara tangisan dan jeritan masih terdengar ramai, suasana masih gelap, ya.. saat itu sekita pukul. 04.00 dini hari saat melihat jam di Hp, suasana makin kisruh saat gerbong berikutnya ikut terguling juga... entah berapa korban yang luka-luka atau bahkan meninggal dunia, saya hanya bisa lihat dari kejahuhan saja.. hari mulai pagi, polisi, masyarakat dan team rescue sudah mulai berdatangan.. tapi korban belum juga di evakuasi, begitu juga para penumpang yang selamat, belum ada konfirmasi dari petugas yang bersangkutan tentang bus jemputan ataupun kendaraan lain nya untuk menjemput penumpang yang selamat menuju stasiun berikutnya..
Karena tak sabar menunggu akhirnya saya bersama rombongan teman-teman Grace memutuskan untuk mencarter ankutan kota yang lewat menuju surabaya, mengingat lokasi kereta terguling saat itu di kabupaten Pasuruan - jawa timur, sekitar 2-3 jam menuju surabaya. sesampainya di surabaya saya baru ingat jika barang-barang bawaan saya banyak yang tertinggal, oleh2 untuk teman, pernak-pernik dan lain sebagainya tertinggal di kereta, saya hanya ingat tas day-pack yang berisi laptop dan beberapa baju. saya masih bersyukur karena masih di beri keselamatan, dan teringat oleh air yang saya minum sebelum berangkat, hingga akhirnya saya berpikir jika ayah ternyata punya firasat buruk saat saya akan kembali pulang, sehingga beliau menyuruh saya untuk meminum air tersebut, entah mengandung makna apa , saya hanya bisa menafsirkan itu sebagai simbolis bakti anak pada orang tuanya, hingga sampai menghembuskan nafas terahirnya, beliau belum menjelaskan nya pada saya..
Kami tiba di Stasiun Gubeng Surabaya sekitar puku 10.00 wib, saya dan Grace berpisah di stasiun ini, sayang kami tak sempat bertukar nomer hanphone, facebook,email dan sebagainya.. saya hanya bisa mengucapkan terimakasih pada mereka karena telah membangunkan saya saat itu.. hari sudah mulai siang.. saya memesan kopi di sebuah kedai sambil memberi tahu keluarga dan teman-teman dekat tentang apa yang terjadi pagi itu. sambil menunggu kereta menuju bandung yang akan berangkat 6 jam lagi..