Suling Bambu menyampaikan kisah pilu perpisaha.
Tututurnya. "sejak aku berpisah sengan asal usulku, pohon bambu yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.
Kuingin sebuah dada koyak sebab terpisah jauh dari orang yang dicintai, Dengan demikian, dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta. Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat tatkala dia masih berkumpul dengan sanak keluarganya.
Nada-nada senduku senantiasa kunuyanyikan dalam setiap pertemuan, aku duduk bersama mereka riang dan sedih. Rahasia laguku tak jauh dari asal usul ratapku. Namun, apakah ada telinga yang mendengar dan mata melihat?
Tubuh tak terdinding dari roh, pun roh tak terdinding dari tubuh. Namun tak seorang diperbolehkan melihat roh. Bunyi seruling yang riuh ialah korban api, bukan desir angin yang berhembus: mereka yang tak mempunyai api akan sia-sia. Inilah api cinta yang tersembunyi dalam suling bambu, inilah bara semangat cinta yang di kandung anggur. Seruling ialah sahabat mereka yang terpisah dari karibnya: lagunya menyayat kalbu.
Siapa yang pernah melihat racun dan penawarnya sekaligus seperti suling? siapa yang pernah menyaksikan orang berkabung dan pecinta menuturkan rindu dendamnya seperti suling? suling menyanyikan kisah jalan tergenang darah dan menyingkap lagi rindu dendam. Hanya untuk mereka yang tidak mengerti pemahaman dan kepahaman disampaikan: lidah tak mempunyai pelanggan selain telinga.
Dalam pilu hari-hari kami berlalu tak kenal waktu: hari-hari kami berjalan bersama kepiluan membara. Kalau hari-hari kami mesti pergi, biarlah ia pergi kami tak pedul. Kekallah Kau, sebab tiada sekudus Kau.
Meraka yang tidak puas pada air-Nya bukanlah ikan: Mereka yang punya nasi untuk makan sehari-hari akan merasa betapa lamanyanya detik-detik waktu berjalan. Tidak ada barang mentah yang mengerti makna kematangan. Karena itu, kini akan ku ringkas kata-kataku! selamat tinggal!
Patahkan belenggu yang mengikatmu dan bebaskan dirimu! berapa lama kau akan terikat pada perak dan emas? Apabila air laut kau tuang kedalam kendi, berapa teguk yang dapat di tampung? mungkin hanya cukup untuk minum sehari. Kendi itu, mata yang tak pernah kenyang itu, tak akan pernah penuh: Ingatlah kerang takan berisi mutiara sebelum dirinya penuh.
Dia yang meminjamkan jubahnya dengan rasa cinta akan bersih dari rasa ketamakan dan kekurangan. Selamat datang oh cinta yang memberi keberuntungan indah, Kaulah tabib segala sakit kami pemulih keangkuhan dan kesombongan, Filosof dan Dokter kami!
Dengan cinta, tubuh tanah liat ini dapat terbang ke angkasa raya, mikraj: Gunung menari dan tangkas geraknya. Cinta menurunkan ilham kepada Gunung sinai, oh Pecinta, Karena itu Gunung sinai mabuk dan 'Musa jatuh pingsan'.
Apabila aku mengikuti bibir yang sehaluan denganku, aku akan seperti suling, menazamkan semua yang dapat kunazamkan. tetapi, dia yang dipisahkan darinya akan membisu, walaupun tahu ratusan syair dan gurindam. Apabila mawar pergi dan tanaman lenyap, kisah burung bulbul tak akan terdengar lagi oleh mu. Kekasih ialah segala-galanya, dan pecinta ialah tabirnya. Kekasih ialah Hidup dan pecinta itu benda mati. Kalau cinta tak memedulikan, jadilah dia burung tanpa sayap.
Bagaimana kesadaran ada di depan dan disamping, jika cahaya Kekasihku tidak ada di depan dan di sampingku?
Cinta ingin Dunia ini menjelmakan: Jika cermin tak memantulkan bayangan, apa sebabnya? Tahukah kau mengapa cermin tak memantulkan satu pun banyangan? karena karat tidak dibersihkan.
Oh sahabat dengarkan kisah ini: hanya dalam kebenaran sumsum keperiadaan roh kami terkandung.
Mastnawi - senandung cinta abadi- Jalaludin Rumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar